Pengertian Client Server
Client Server adalah suatu bentuk arsitektur, dimana client adalah perangkat yang menerima yang akan menampilkan dan menjalankan aplikasi (software komputer) dan server adalah perangkat yang menyediakan dan bertindak sebagai pengelola aplikasi, data, dan keamanannya.
Kelebihan Client Server :
1. Lebih aman
2. Semua data dapat dibackup pada satu lokasi sentral
3. Kecepatan akses lebih tinggi karena penyediaan fasilitas jaringan dan pengelolaannya dilakukan secara khusus oleh satu komputer (server) yang tidak dibebani dengan tugas lain sebagai workstation
Kekurangan Client Server :
1. Membutuhkan administrator yang handal
2. Pelaksanannya mahal
3. Jika server mati maka komputer clent akan mati juga
Peer To Peer
Pengertian Peer To Peer
Peer To Peer adalah jaringan komputer dimana setiap host dapat menjadi server dan juga menjadi client secara bersamaan.
Kelebihan Peer To Peer :
1. Pelaksanaan tidak terlalu mahal
2. Tidak membutuhkan administrator yang handal
Kekurangan Peer To Peer :
1. Tidak cocok untuk network skala besar
2. Keamanan kurang
Client Server adalah suatu bentuk arsitektur, dimana client adalah perangkat yang menerima yang akan menampilkan dan menjalankan aplikasi (software komputer) dan server adalah perangkat yang menyediakan dan bertindak sebagai pengelola aplikasi, data, dan keamanannya.
Kelebihan Client Server :
1. Lebih aman
2. Semua data dapat dibackup pada satu lokasi sentral
3. Kecepatan akses lebih tinggi karena penyediaan fasilitas jaringan dan pengelolaannya dilakukan secara khusus oleh satu komputer (server) yang tidak dibebani dengan tugas lain sebagai workstation
Kekurangan Client Server :
1. Membutuhkan administrator yang handal
2. Pelaksanannya mahal
3. Jika server mati maka komputer clent akan mati juga
Peer To Peer
Pengertian Peer To Peer
Peer To Peer adalah jaringan komputer dimana setiap host dapat menjadi server dan juga menjadi client secara bersamaan.
Kelebihan Peer To Peer :
1. Pelaksanaan tidak terlalu mahal
2. Tidak membutuhkan administrator yang handal
Kekurangan Peer To Peer :
1. Tidak cocok untuk network skala besar
2. Keamanan kurang
1.Pengantar
Jaringan P2P (peer-to-peer) telah
lahir dan berkembang secara dramatis seiring meledaknya teknologi informasi dan
komunikasi. Di abad internet saat ini, para netter tentu sudah pasti
tidak asing lagi dengan nama Gnutella, Kazaa, atau Napster. Ketiga nama ini
merupakan contoh jelas dan sederhana untuk menggambarkan betapa hebatnya sebuah
jaringan yang bersifat “persahabatan/pertemanan”.
Gebrakan awal teknologi ini dipelopori
oleh Usenet News Servers yang banyak didominasi/diisi dengan newsgroup.
Tom Truscott dan Jim Ellis, dua mahasiswa yang membuat aplikasi
untuk Usenet, mungkin tidak akan menyangka kalau aplikasi yang dulu
mereka buat kini telah mampu mengubah paradigma manusia tentang banyak hal.
Salah satunya adalah mengenai hak cipta (copyright), yang sampai
sekarang masih menjadi polemik dunia industri musik di Amerika Serikat. Jadi,
jika ada netter yang buta tentang teknologi ini, mungkin dia termasuk
orang yang telah tidur selama 9 bulan di atas kasurnya tanpa pernah membuka
mata sedetik pun. Ini adalah sindiran Todd Sundsted, Chief Architect
dari PointFire, Inc. yang menulis artikel di situs IBM tentang teknologi
sederhana nan mengagumkan ini.
2.Sejarah Singkat P2P
Tahun 1979, Usenet, sebuah aplikasi
terdistribusi (baca: tidak tersentralisasi/ distributed) yang dibuat
oleh Tom Truscott dan Jim Ellis, lahir di Amerika Serikat.
Aplikasi ini umumnya melayani penggunanya dengan newsgroup. Pada
tahun-tahun itu, dunia belum mengenal dan mampu menikmati layanan internet
sebaik dan secepat seperti saat ini. Umumnya, berkas-berkas yang berada di
dalam komputer milik pengguna usenet dipertukarkan dalam bentuk batch
files (berkas yang berisi data yang diproses atau ditransmisikan mulai dari
awal hingga akhir). Biasanya, para pengguna
saat itu saling bertukar data di malam hari yang larut.
Itu adalah waktu di sebuah negara besar ketika jalur telepon untuk SLJJ
(sambungan langsung jarak jauh) sedang sepi. Akibatnya, tidak ada cara yang
efektif untuk membuat fungsi aplikasi ini menjadi tidak terdistribusi. Dengan
kata lain, aplikasi ini tetap menjadi aplikasi yang tidak memiliki pusat
kendali (server). Bahkan hingga hari ini.
Aplikasi P2P generasi awal lain yang sukses dan
populer adalah FidoNet. Laiknya Usenet, FidoNet juga digunakan secara
terdistribusi. Aplikasi ini dibuat oleh Tom Jennings pada tahun 1984
sebagai cara untuk bertukar pesan diantara pengguna-penggunanya yang memiliki BBS
(Bulletin Board System) yang berbeda.
Baik Usenet maupun FidoNet dapat menjadi contoh betapa
hebatnya teknologi P2P. Sampai detik ini, keduanya masih lestari. Uniknya,
sekarang keduanya sudah tidak sendiri lagi. “Cucu-cucu” mereka sudah lahir dan
ikut menggebrak dunia maya. Sebut saja Gnutella, Kazaa, Napster, dsb.
3.Pengertian P2P
Jaringan komputer P2P termasuk sebuah cabang (subset)
dari bidang komputasi terdistribusi. Namun komputasi terdistribusi sendiri
bukanlah cabang dari P2P. Sebutan “peer-to-peer” mengisyaratkan sebuah
hubungan kesetaraan (egalitarian relationship) diantara para peer (baca:
pengguna satu dengan yang lainnya). Dan yang terpenting, hubungan ini haruslah
menghasilkan interaksi langsung antara komputer pengguna yang satu dengan
komputer pengguna lainnya. Tanpa embel-embel ada komputer yang berstatus
sebagai client dan berstatus sebagai server.
Secara teknis, jaringan P2P (peer-to-peer) adalah
sebuah jaringan yang memungkinkan semua komputer dalam lingkungannya
bertindak/berstatus sebagai server yang memiliki kemampuan untuk
mendistribusikan sekaligus menerima berkas-berkas atau sumber daya (resource)
yang ada dalam komputer mereka ke komputer lainnya.
Jaringan bertipe ini sangat banyak dijumpai di
kantor-kantor yang tidak membutuhkan sebuah sentral pengaturan laiknya jaringan
client-server. Di internet, jaringan P2P hidup dan berkembang melalui
aplikasi-aplikasi populer seperti Napster dan Gnutella.
4.Klasifikasi P2P
Berdasarkan tingkat/derajat sentralisasinya, jaringan
P2P terbagi ke dalam 2 tipe, yakni:
1.P2P Murni (Pure P2P), dengan ciri-ciri
sebagai berikut:
➢Masing-masing peer berstatus
setara (egaliter), setiap peer berstatus sebagai client juga
server.
➢Tidak ada server pusat
yang mengatur jaringan.
➢Tidak ada router yang
menjadi pusat jaringan.
2 .P2P Hybrid (Hybrid P2P), dengan ciri-ciri sebagai berikut:
2 .P2P Hybrid (Hybrid P2P), dengan ciri-ciri sebagai berikut:
➢Mempunyai server pusat
yang memantau dan menjaga informasi yang berada di setiap peer sekaligus
merespon peer ketika ada yang meminta informasi itu.
➢Setiap peer bertanggung
jawab untuk menyediakan resource yang tersedia. Hal ini terjadi karena server
pusat tentu diatur sedemikian rupa untuk tidak memilikinya. Selain itu, hal
ini juga dilakukan agar server pusat tersebut dapat mengetahui resource
apa saja yang akan didistribusikan di dalam jaringan.
➢Ada router yang
menjadi pusat jaringan.
5.Manfaat P2P
Tujuan utama dari jaringan P2P adalah agar semua peer
dapat menyediakan sekaligus memanfaatkan resource komputer, termasuk
bandwith, media penyimpanan, dan kemampuan komputasi yang ada di dalam
jaringan tersebut. Dengan demikian, ketika node-node (komputer-komputer) telah
banyak terhubung dan terjadi banyak permintaan terhadap sistem, kapasitas total
yang dimiliki oleh sistem juga akan meningkat. Hal ini merupakan
kontraproduktif dengan apa yang terjadi pada sistem client-server. Dalam
sistem client-server, bertambahnya client justru dapat
menyebabkan melambatnya transfer data di dalam sistem.
Sifat terdistribusi yang dimiliki oleh jaringan P2P
ini juga dapat meningkatkan kestabilan/kekokohan (robustness) sistem
dari kemungkinan kegagalan (system failure). Kestabilan ini disebabkan
oleh dua faktor. Pertama, adanya replikasi/penggandaan data yang terjadi di
antara para pengguna (peer). Kedua, dengan memanfaatkan resource komputer
peer itu sendiri untuk mencari data yang ada di dalam jaringan tanpa
mengandalkan satu resource komputer server saja.
6.Topologi Jaringan P2P
Shuman Ghosemajumder dalam makalahnya yang berjudul Advanced
Peer-Based Technology Business Models yang diterbitkan pada tahun 2002
membagi topologi jaringan P2P ke dalam 2 tipe. Berikut tipe-tipe tersebut:
1.Centralized Model
Model ini adalah model yang digunakan oleh Napster.
Semua peer (pengguna) akan terhubung ke satu atau sekelompok (cluster)
server. Server ini berfungsi untuk memfasilitasi (baca: sebagai
mediator) hubungan antara peer dalam jaringan tersebut. Server tersebut
dapat memainkan satu, dua atau ketiga peran berikut ini:
➢Discovery. Server yang memainkan peran ini akan meyimpan informasi tentang user yang
sedang terhubung ke dalam sistem sekaligus memungkinkan semua user untuk
mengetahui bagaimana cara menghubungi user tertentu yang sedang berada
di dalam jaringan.
➢Lookup. Server dengan peran lookup memiliki kemampuan server dengan peran
discovery. Hanya saja, server ini juga akan menyediakan mekanisme
pencarian yang tersentralisasi.
➢Content Delivery. Dalam peran ini, peer akan meng-upload semua atau beberapa
data (content) milik mereka ke server pusat. Dengan cara ini,
proses transfer data menjadi relatif lebih cepat ketimbang dengan kedua model
peran sebelumnya. Dengan beberapa pertimbangan keadaan tentunya.
Gambar topologi model tersentralisasi dapat dilihat
pada gambar 1 di bawah ini:
Gambar 1: Model P2P tersentralisasi
Model ini membutuhkan sebuah atau beberapa server yang
digunakan untuk melakukan beberapa tugas atau fungsi tertentu
2.Decentralized Model
Model ini akan membuat semua peer memiliki
status dan fitur yang sama dalam sebuah jaringan. Jadi, tidak akan ada server
atau client di dalamnya. Contoh aplikasinya adalah Freenet.
Dalam model terdesentralisasi, seorang peer tidak akan dapat mengetahui
jumlah peer lainnya yang sedang terhubung di
dalam jaringan. Selain itu, seorang peer juga tidak akan dapat
mengetahui alamat dari peer lain yang akan dihubunginya. Satu lagi
kekurangan model ini adalah bahwa peer tidak dapat mengetahui isi (content)
komputer milik peer lainnya yang sedang tersedia dalam jaringan.
Meskipun begitu, model desentralisasi juga memiliki
kelebihan. Diantaranya berkaitan dengan masalah keamanan, baik itu dilihat dari
segi teknologi maupun hukum hak cipta. Dari segi teknologi, model desentralisasi
menguntungkan karena akan lepas dari kemungkinan satu serangan tunggal yang
dapat mematikan jaringan. Sedangkan dari segi hukum hak cipta, meskipun masih
menyisakan bias, model ini relatif lebih bebas dari jerat undang-undang hak
cipta karena content yang tersebar dalam jaringan merupakan data yang
hendak saling dipertukarkan. Bukan untuk dijual atau dibajak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar